Sponsor Negara Di Balik Serangan Virus Stuxnet Ke Iran

Sebuah virus komputer yang menyerang pembangkit listrik nuklir Iran di Bushehr hanya bisa dirancang dengan dukungan negara, ujar pakar keamanan dunia maya Barat.

Serangan virus pada hari Sabtu (25/9) dengan nama “Stuxnet” menimbulkan spekulasi bahwa pembangkit nuklir itu mungkin telah menjadi sasaran dari musuh negara dalam sebuah upaya untuk menyabotasenya.

Seorang pejabat senior di perusahaan teknologi AS Symantec mengatakan bahwa 60% komputer dunia yang terinfeksi oleh virus Stuxnet ada di Iran.

Serangan itu tidak mempengaruhi sistem pembangkit tapi mengenai komputer para karyawan dan penyedia internet.

Reza Taqipour, Menteri Telekomunikasi Iran, mengatakan bahwa virus itu tidak bisa menembus atau menyebabkan kerusakan yang serius pada sistem pemerintah, koran pemerintah Iran Daily melaporkan.

“Sebuah tim tengah menyelidiki beberapa komputer untuk menghapus virus, sistem besar pembangkit tidak rusak,” ujar Mahmoud Jafari.

Otoritas mengatakan bahwa Iran telah mengidentifikasi 30,000 penyedia internet yang terinfeksi Stuxnet, menyalahkan musuh Iran yang menciptakan virus itu.

Diplomat dan sumber-sumber keamanan mengatakan bahwa pemerintah Barat dan Israel melihat sabotase sebagai satu cara untuk menghambat program nuklir Iran, yang ditakutkan Barat ditujukan untuk dibangun menjadi senjata nuklir.

Teheran mengatakan memerlukan teknologi nuklir untuk menghasilkan listrik.

Virus itu menyerang program perangkat lunak yang mengoperasikan Kontrol Pengawas dan sistem Akuisisi Data, atau SCADA. Sistem semacam itu digunakan untuk memonitor pembangkit otomatif – dari pabrik kimia dan makanan sampai generator listrik.

“Stuxnet telah diciptakan sejalan dengan perang elektronik Barat melawan Iran,” ujar Mahmoud Liayu, sekretaris Dewan Teknologi informasi dari Kementerian Industri.

Israel, yang diketahui memiliki satu-satunya senjata nuklir di Timur Tengah, telah mengisyaratkan akan menyerang fasilitas nuklir Iran jika diplomasi internasional gagal untuk menghentikan program negara tersebut.

Sebuah wawancara Bloomberg dengan Richard Falkenrath, mantan pejabat kontraterorisme di pemerintahan Bush, menunjuk secara spesifik Israel sebagai kemungkinan besar sumber virus komputer Stuxnet.

“Secara teori memang mungkin bagi AS untuk melakukan itu. Tapi kemungkinannya sangat kecil. Jujur saja, lebih mungkin jika Israel yang melakukan ini.”

“Bagi AS untuk meluncurkan serangan seperti adalah hal yang sangat berisiko untuk dilakukan, karena tidak bisa benar-benar dikendalikan. Virus ini bisa menyebar di luar tempat-tempat yang menjadi target.”

Jika benar bahwa Israel yang menciptakan Stuxnet maka itu menjadi contoh lain dari terorisme Israel yang disponsori oleh rezim Zionis itu. Bahkan jika kita mengakui hak Israel untuk menyerang fasilitas-fasilitas nuklir Iran dengan cara ini, ada masalah kerusakan senilai puluhan jika tidak ratusan juta dolar yang disebabkan bagi sistem industrial di setidaknya empat negara (Iran, Pakistan, India, dan Indonesia).

Ini adalah citra diri dari kerusakan yang disebabkan oleh Mossad terhadap kedaulatan dan reputasi dari semua negara yang dirusak oleh pembunuh Mahmoud Al Mabouh ketika memalsukan dokumen paspor dengan nama warga negara dari negara-negara tersebut.

Seseorang bisa berargumen bahwa ada pembenaran dalam menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang kemungkinan dirancang untuk menciptakan senjata nuklir. Tapi untuk sebuah rezim seperti Israel merusak fasilitas produksi dari negara-negara itu adalah tidak rendah budi. Falkenrath jelas mempercayai bahwa ini adalah alasan kecilnya kemungkinan AS yang menciptakan Stuxnet.

Tentu saja, akan sulit jika tidak mustahil untuk secara tegas mengidentifikasi sumber infeksi itu karena, tidak seperti kejahatan fisik, yang ini tidak meninggalkan bukti yang bisa dilacak. Dalam hal itu, Israel atau siapapun yang menciptakan kekacauan ini telah melakukan kejahatan yang sempurna. (rin/alj/rs) www.suaramedia.com

Comments