Sosok Ponimin Pengganti Mbah Maridjan

Teka-teki pengganti Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang meninggal akibat amukan wedhus gembel (awan panas), mulai terkuak. Istri Sultan Hamengku Buwono X, Permaisuri Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas meminta Ponimin, 49, menjadi juru kunci Merapi menggantikan Mbah Maridjan.

“Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata GKR Hemas saat mengunjungi Ponimin di rumah pengungsiannya di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang. Namun permintaan GKR Hemas itu tidak langsung disanggupi oleh Ponimin. “Kula dereng saged matur sakmenika (saya belum bisa menjawab saat ini),” kata Ponimin. “Yo wis, kuwi dirembug mengko (ya sudah, nanti dibicarakan lain waktu),” kata GKR Hemas. Selama hampir satu jam GKR Hemas beserta beberapa anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengunjungi Ponimin. GKR Hemas ingin mendengarkan langsung kisah Ponimin dan keluarganya yang berhasil selamat dari amukan wedhus gembel saat Merapi meletus, Selasa (26/10) petang.

Ponimin beserta istri dan lima putra-putrinya secara ajaib bisa selamat dari terjangan awan panas Merapi bersuhu lebih 600 derajat Celsius. Sementara Mbah Maridjan dan sejumlah orang yang berlindung di rumah juru kunci Merapi itu tewas akibat terjangan awan panas Merapi. Padahal, rumah Ponimin dan rumah Mbah Maridjan relatif berdekatan. Rumah Ponimin berada di sebelah timur, sekitar 500 meter dari rumah Mbah Maridjan. Ponimin berserta istri dan anak-anaknya berlindung di balik rukuh (mukena) saat awan panas menerjang Dusun Kinahrejo. Rumahnya hancur, namun Ponimin beserta istri dan anak-anaknya selamat. Ponimin hanya menderita luka bakar di telapak kaki dan salah satu anaknya menderita luka bakar di siku kanan. Bahkan, ponsel anaknya yang jatuh saat ada awan panas itu, kondisinya masih utuh, demikian pula kartu di dalamnya. Setelah berhasil keluar dari rumah, Ponimin sempat dilarikan ke Rumah Sakit Panti Nugroho, Pakem, Selasa (26/10) malam.

Namun, keesokan harinya Ponimin dan keluarga memilih mengungsi di rumah dokter Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman hingga saat ini. Di depan GKR Hemas, Ponimin juga mengaku mendapat informasi secara gaib tentang letusan Merapi. Menurut Ponimin, makhluk gaib itu bahkan memberitahu bahwa awan panas akan menerjang rumah Mbah Maridjan. Ponimin juga mengatakan Merapi masih akan meletus lagi.

“Yo wis, nek ana apa-apa, matur wae ke keraton yo (ya sudah, kalau ada apa-apa, segera lapor ke keraton),” pinta GKR Hemas. Ponimin kemudian menganggukkan kepala. Seolah kewaskitaan Ponimin terbukti, Kamis (28/10), Gunung Merapi memang kembali meletus disertai luncuran wedhus gembel sekitar pukul 16.16 WIB. Namun, letusan kali ini lebih kecil daripada sebelumnya yang terjadi pada Selasa petang. “Tidak sebesar tanggal 26 Oktober kemarin. Diperkirakan jarak luncurnya hanya 3,5 kilometer,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pada pukul 19.54 WIB, semburan awan panas kembali muncul, bahkan kali ini diikuti lava pijar. Menurut Surono, munculnya lava pijar tersebut sudah menunjukkan erupsi khas Merapi dan diharapkan aktivitas gunung api tersebut mulai menurun. Namun demikian, Surono mengatakan, untuk saat ini status Gunung Merapi masih tetap dinyatakan Awas dan masyarakat diminta untuk tetap berada di jarak aman yaitu dalam radius 10 kilometer dari puncak.

Keajaiban

Ponimin sebenarnya juga abdi dalem Keraton Jogja berpangkat jajar (pangkat paling rendah) dengan gelar Surakso Ponihardja. Namun pada 2006, ia menyatakan mundur sebagai abdi dalem karena kecewa dengan keraton dan Mbah Maridjan. Kartu tanda abdi dalemnya telah dia serahkan ke Mbah Maridjan, yang kemudian dikembalikan ke keraton. Ponimin merasa ditelikung saat Mbah Maridjan dikontrak sebagai bintang iklan perusahaan jamu terkenal.

Menurut Ponimin, kesepakatan awal ia dilibatkan dalam iklan produk minuman suplemen dari perusahaan itu. Namun belakangan ia tidak dilibatkan. Mbah Maridjan sendiri tidak semata menggunakan uang hasil iklan untuk kepentingan pribadi. Uang itu dibagi untuk masyarakat sekitar, termasuk membangun masjid. Nama Ponimin kini menjadi buah pembicaraan baru seputar musibah letusan Merapi setelah ia dan keluarganya selamat dari amukan Merapi.

Ya, keajaiban itu terjadi di lereng Merapi. Ketika awan panas meluluhlantakkan Dusun Kinahrejo, sebuah keluarga selamat. Ponimin, kepala keluarga itu bersama istri dan lima anaknya bertahan hidup. Padahal rumah Ponimin hancur, kaca-kaca pecah, genting berterbangan. Rumahnya pun hanya berjarak sekitar 6 km dari puncak Merapi. Tapi Ponimin beserta keluarganya selamat. Ponimin selamat bersama anggota keluarga yang lain, setelah hampir empat jam dikepung debu panas. Seperti dilansir Harian Jogja, Kamis (28/10), pria yang akrab disapa Haji Ponimin itu dengan kalimat tegas menceritakan pengalamannya menyaksikan terjangan awan panas, termasuk pengalaman spiritual yang ia alami.

Selasa petang, usai menunaikan salat Magrib, seperti biasa ia masih tekun berzikir di rumahnya. Istrinya, Yati, tengah mengaji di ruang depan. Tiba-tiba datang orangtua berpakaian kejawen menyampaikan pesan akan datang awan panas yang menghancurkan desa. Paham dengan pengalaman sebelumnya, Ponimin lantas turun ke luar rumah mencari daun dadap serep dan awar-awar. Rumah yang ia tinggali hanya berjarak tak lebih dari 500 meter sebelah timur rumah juru kunci Merapi yang ikut jadi korban Merapi, Mbah Maridjan.

“Kalau dua daun itu disatukan dan kita minta kepada Tuhan, biasanya bencana tidak terjadi. Tapi saya terlambat. Tiba-tiba api merah menyala menyembur,” ujarnya mengenang peristiwa terjangan awan panas. Ia bersama anggota keluarganya lantas berlindung ke dalam rumah, meski kaca-kaca rumah hancur. Yang ia lakukan saat itu hanya pasrah pada Tuhan dan terus memanjatkan doa di tengah ancaman badai awan panas di luar rumahnya.

Ia mengaku sempat mengontak beberapa orang yang dikenalnya untuk meminta bantuan, namun tak berhasil karena kondisi kacau-balau. “Sekitar jam 22.10 kami mencoba keluar menggunakan mobil, namun tak berhasil karena roda mobil meletus terkena panas,” paparnya. Di luar, abu panas menutupi jalan setinggi kira-kira 30 cm. Sampai akhirnya terbesit dalam pikirannya menggunakan tujuh bantal dan satu sajadah di rumahnya sebagai pijakan kaki untuk menuju daerah aman.

Tak kurang dari satu kilometer ia bersama anggota keluarganya, berjalan di atas bantal dan sajadah, menuju jalan aspal jauh di bawah rumahnya. Di sana, ia dijemput seorang warga yang lantas mengantarkannya menuju barak pengungsian Kepuharjo. Dari barak, ia dan keluarga dijemput ambulans yang mengantarkannya ke RS Panti Nugroho, Pakem. Cerita ini sekaligus membeberkan fakta baru tentang pemberitaan sebelumnya bahwa Mbah Maridjan selamat. Disebutkan kala itu, Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang tinggal di Kinahrejo, ditemukan tim evakuasi dari TNI AL dalam keadaan selamat namun lemas. Ternyata, yang dimaksud tim evakuasi dengan Mbah Maridjan adalah Ponimin yang bertahan di tengah abu panas selama 4 jam.

Yati, istri Ponimin juga masih ingat betul peristiwa itu. Dia menceritakan hawa panas tiba-tiba menerjang disertai angin kencang dan debu. Dia bersama Ponimin dan anak-anaknya berlari masuk ke kamar. Mereka berlindung di balik rukuh (mukena) milik Yati yang baru digunakan salat Magrib. “Kami selamat, meski api berkobar-kobar di sekeliling kami. Atap rumah beterbangan. Kaca-kaca jendela pecah,” cerita Yati.

Bantal dan Sajadah

Setelah awan panas reda, mereka bergerak ke luar rumah. Namun tanah yang diinjak terasa panas. Mereka berhasil naik mobil di halaman rumah yang selamat dari amukan awan panas. Namun baru berjalan beberapa meter, ban mobil pecah karena meleleh. Mereka kembali masuk rumah. Mereka kemudian mengumpulkan tujuh bantal dan satu sajadah. Benda-benda itulah yang kemudian dijadikan “jembatan” untuk keluar dari rumah, menuju tempat aman. Rukuh yang menyelamatkan nyawa Ponimin dan keluarganya itu kini disimpan. “Sudah ada yang nawar Rp 40 juta. Namun tidak saya kasih,” kata Yati.

Ponimin sendiri mengaku siap kembali ke rumahnya jika kondisi sudah kembali normal. Ia meyakini Tuhan pasti akan memberikan kebaikan jika hamba-Nya selalu taat dan percaya. Ia tak menampik, selama ini ia kerap mendapat pesan gaib, jika akan ada bencana Merapi. Pada erupsi kali ini, ia mengaku beberapa kali didatangi orang tua berpakaian kejawen yang memintanya untuk tetap tinggal. Jika tidak, maka Keraton Jogjakarta akan dihancurkan.

Menurut Ponimin, pada Selasa (26/10) pagi, dirinya dihampiri oleh seorang pria setengah baya berpakaian adat Jawa. “Dia memberitahu bahwa akan datang uwuh (sampah, red) ke arah selatan (arah ke Keraton Jogja) dan mengobrak-abrik keraton. Tapi kalau saya tetap bertahan di rumah, keraton akan selamat,” tutur Ponimin. Sore hari atau dua jam sebelum awan panas menerjang, istrinya ganti ditemui pria kejawen itu dan diberitahu perihal yang sama. “Lantas istri saya bilang `jangan, keraton jangan dirusak`.

Menurut kami, andai kata kami tidak bertahan di rumah, keraton yang akan terkena dampak Merapi,” kata Ponimin. Dari pesan yang ia dapatkan juga, saat ini Merapi masih ada kegiatan lain yang lebih besar. Namun ia mengaku tak tahu kapan itu terjadi, apakah berlanjut dari erupsi sebelumnya atau di waktu yang lain. Bahkan dahsyatnya kegiatan Merapi tersebut, kata dia, akan menyatukan dua kali di lereng Merapi, Kali Boyong dan Kali Kuning.

Kembali ke soal titah GKR Hemas yang menunjuknya sebagai pengganti Mbah Maridjan, Ponimin kembali menegaskan masih pikir-pikir. Selain dia sudah bukan lagi abdi dalem Keraton sejak tahun 2006, Ponimin juga mempunyai banyak kegiatan yang membuatnya sehari-hari sibuk. Dikenal sebagai paranormal, rumah Ponimin tiap hari didatangi belasan orang untuk berkonsultasi dengannya, apakah itu untuk kelancaran bisnis, peningkatan karir atau keharmonisan rumah tangga.

Di antara tamunya ada pejabat seperti anggota DPRD dan bupati. Ponimin lantas menyebut nama-nama mereka. “Lagi pula rumah saya kan kecil. Bagaimana kalau saya jadi abdi dalem dan makin banyak tamu, atau saat harus nanggap wayang?” kata Ponimin dengan rileks, Kamis (28/10) saat ditemui wartawan Tribunnews (dari Grup Surya) di rumah dokter Anna Ratih Wardhani, yang kini jadi tempat penampungannya.

Saat ditemui wartawan kemarin, Ponimin duduk lesehan di atas kasur di depan TV. Kedua telapak kakinya mengalami luka bakar. Ponimin mengaku, uangnya sebanyak Rp 25 juta yang tertinggal di rumah saat evakuasi, tak diketahui nasibnya.tribunnews