Indonesia Telah Terinfeksi Virus Sabotase Stuxnet

Virus sabotase Stuxnet diprediksi dibuat oleh sekumpulan hacker yang mendapatkan dana dari negara makmur yang berkuasa, atau perusahaan yang memiliki banyak uang.

Meski banyak spekulasi yang menyatakan virus sabotase itu mengincar proyek nuklir Iran, namun pihak Symantec maupun pemerintah AS mengaku belum menemukan bukti jika target tersebut benar adanya.

Namun begitu pihak Symantec memprediksi untuk menciptakan kode berbahaya tersebut dibutuhkan sekira lima hingga 10 orang hacker yang memiliki pendidikan tinggi, telah terlatih dengan baik dan dibayar cukup besar.

Sayangnya pemerintah AS dan para analis belum bisa menunjukkan dari mana virus tersebut berasal.

Saat ini malware tersebut diprediksi telah menginfeksi sekira 45.000 sistem komputer di seluruh dunia. Siemens AG, perusahaan yang mendesain sistem yang menjadi target virus tersebut, mengatakan jika Stuxnet telah menginfeksi 15 sistem kendali pembangkit listrik, termasuk sistem filtrasi air, pengeboran minyak, listrik dan pembangkit nuklir.

“Sekira 60 persen komputer yang telah terinfeksi Stuxnet berada di Iran. Sedangkan 18 persen komputer lainnya berada di Indonesia. Hanya dua persen komputer AS yang terinfeksi,” ujar Liam O Murchu, Manager of Security Response Operations Symantec Corp, seperti diberitakan melalui Associated Press, Senin (27/9/2010).

Menurut pihak Symantec, sejumlah negara dengan keahlian komputer tinggi memiliki kemampuan untuk menciptakan kode seperti itu.

Negara yang dimaksud adalah China, Rusia, Israel, Inggris, Jerman dan AS. Sayangnya O Murchu tidak bisa menunjuk satu negara pasti.

Sebelumnya, ilmuwan komputer asal Jerman Ralph Langner mengklaim telah menemukan virus komputer yang menyebar melalui USB.

Virus tersebut dapat mengenali fasilitas publik yang dianggap berbahaya untuk kemudian mengendalikan dan menghancurkannya secara jarak jauh. (ar/z2k) www.suaramedia.com

Comments